Silahkan pilih menu Label Blog :
Tampilkan postingan dengan label E-telekomunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-telekomunikasi. Tampilkan semua postingan

Digital Subscriber Line


Digital subscriber line (DSL) merupakan suatu teknologi modem yang menggunakan saluran telepon twisted pair existing untuk mentransmisikan data berpita lebar. Pada dasarnya perkembangan DSL ini merupakan teknologi yang memanfaatkan media kabel tembaga untuk mengalirkan layanan berpita lebar.

Modem DSL biasanya banyak digunakan pada layanan ISDN basic rate. Pada proses pentransmisian data DSL melakukan transmisi data secara dua arah sekaligus (duplex) pada kecepatan 160 Kbps melalui kabel tembaga dengan rentang sampai 6 km.

DSL memiliki berbagai macam variasinya. Oleh karena itu didepan kata DSL ditambahkan huruf "X" yang merupakan variasi dari teknologi DSL tersebut. Masingmasing teknologi x-DSL tersebut mempunyai perbedaan dalam kecepatan dan mode operasinya. Variasi teknologi x-DSL adalah sebagai berikut :

  1. Asymmetrical Digital Subscriber Line (ADSL)
  2. Consumer Digital Subscriber Line (CDSL)
  3. ISDN-Digital Subscriber Line (IDSL)
  4. High bit rate Digital Subscriber Line (HDSL)
  5. Symmetric High Speed DSL (SHDSL)
  6. Rate-adaptive Digital Subscriber Line (RADSL)
  7. Very High bit-rate Digital Subscriber Line (VDSL)
  8. Single or Symmetric Digital Subscriber Line (SDSL)


Asymmetric Digital Subscriber Line

Teknologi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) adalah suatu teknologi Modem yang memiliki kecepatan transfer data sebesar 1,5 Mbps sampai 8 Mbps untuk mendukung implementasi layanan multimedia pada jaringan broadband dengan menggunakan satu pair kabel tembaga.

Disebut asymmetric karena laju kecepatan transmisi dari dua arah berbeda, dimana kecepatan dari arah downstream adalah 1,5-8 Mbps sedangkan bit rate upstream 16-640 Kbps.

Perbedaan kecepatan tersebut terjadi karena pada dasarnya kebutuhan koneksi internet lebih banyak untuk pengambilan data (download) di bandingkan untuk pengiriman informasi (upload). Transmisi ADSL bekerja sampai jarak 5,48 km pada sepasang kawat tembaga pilin (single twisted pair).

Bersama dengan akses Internet, perusahaan telekomunikasi lebih memungkinkan untuk dapat memberikan layanan akses LAN jarak jauh (remote LAN) dan layanan VOD (video on demand) melalui ADSL Modem ADSL digunakan pada frekuensi di atas 4 KHz.

ADSL membagi bandwidth menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

a. Band frekuensi rendah (0 ~ 4 KHz) untuk voice (POTS) atau fax (system dial up)
b. Band frekuensi tinggi (26 KHz ~ 1.1 MHz) untuk data.
c. Antara 4KHz – 26KHz digunakan sebagai guard band

Cara kerja ADSL adalah berupa proses dial-up connection. Jika ada permintaan dari user untuk akses internet, maka modem ADSL sisi sentral akan langsung memprosesnya (sebelumnya dilakukan pemisahan di splitter informasi yang diminta berupa data atau suara). Selanjutnya informasi tersebut akan dilewatkan melalui MDF-RK-DP-KTB, kemudian di sisi pelanggan informasi data tersebut masuk ke splitter lagi, jika informasinya berupa akses internet (data) maka akan disalurkan ke modem ADSL sisi pelanggan kemudian diteruskan ke PC user, jika berupa suara maka dari splitter langsung ke telepon, jika yang diminta video maka dari splitter masuk ke modem ADSL lalu masuk ke Set Top Box (STB) baru ke layer TV.

Konfigurasi umum ADSL dengan jaringan kabel tembaga eksisting adalah sebagai berikut:

Modem ADSL menggunakan teknik modulasi multicarrier atau lebih dikenal dengan istilah DMT (Discrete Multitone) karena mampu mengalokasikan bandwidth untuk transmisi data sehingga transmisi dari tiap sub kanal lebih maksimal. Teknik multiplexing yang digunakan pada teknologi ADSL adalah melalui FDM (Frekuensi Division Multiplexing) atau Echo Cancellation

SDSL (single-line digital subscriber line)

SDSL memiliki kesamaan dengan HDSL yaitu memiliki kecepatan upstream dan downsteam sebesar 1,544 Mbps. Pada penerapannnya SDSL menggunakan sepasang kawat tembaga pilin saja. Dalam aplikasinya SDSL digunakan untuk jarak sekitar 3 km.

VDSL (Very-high-data-rate digital subscriber line)

Teknologi VDSL merupakan teknologi DSL yang bersifat asimetris, artinya kecepatan downstream dan upstream berbeda. Dan teknologi ini di gunakan dalam jarak operasi yang pendek yaitu pada jarak 304 meter - 1,37 Km. Tetapi teknologi ini dapat digunakan untuk lebar pita rata-rata 13 Mbps sampai 52 Mbps untuk downstream dan 1,5 Mbps sampai 2,3 Mbps untuk upstream-nya melalui sepasang kawat tembaga pilin. Lebar pita yang tersisa memungkinkan perusahaan telekomunikasi memberikan program layanan HDTV (high-definition television) dengan menggunakan teknologi VDSL.

HDSL (High-data-rate digital subscriber line)

Teknologi HDSL bersifat simetrik, dapat memberikan lebar pita 1,544 Mbps di setiap jalurnya pada dua pasang kawat tembaga pilin . Karena kecepatan HDSL sesuai dengan saluran T1 maka pada aplikasinya teknologi ini dapat dipakai untuk menyediakan layanan T1.

Jarak jangkauan teknologi HDSL ini adalah 3,65 Km. Oleh karena itu, untuk memperpanjang jarak jangkauannya harus ditambahkan penguat sinyal (repeater atau memakai ukuran kabel yang memiliki diameter lebih besar).

HDSL membutuhkan dua pasang saluran. Oleh karena itu, teknologi ini banyak digunakan terutama untuk koneksi jaringan PBX, digital loop carrier system, antar sentral, server internet dan jaringan data pribadi. Transportasi komunikasi melalui HDSL dapat diterapkan pada akses primer ISDN (ISDN PRA), jalur sewa 2 Mbps dan layanan fraksional yang menempati n x 64 Kbps.

HDSL merupakan basis universal untuk layanan pelanggan (suara, data, video) dan dapat digunakan sebagai transportasi sementara seperti pada base station network yaitu selullar, GSM dan PCN

SHDSL (Symmetric High-data-rate digital subscriber line)

SHDSL adalah teknologi x-DSL yang merupakan pengembangan dari HDSL. Dimana dalam aplikasinya digunakan 1 pair maupun 2 pair tembaga yang memiliki kecepatan upstream dan downstream yang sama yaitu 2,320 Mbps.Berdasarkan standar ETSI untuk kondisi saluran pelanggan yang akan diaplikasikan teknologi G.SHDSL 2 Mbps harus memenuhi beberapa parameter berikut :

1. Kontinuitas yang baik
2. Tahanan isolasi (Rab, Rat, Rbt) : = 10 MΩ pada tegangan = 90 Vdc
3. Resistance unbalance/difference : = 4% (antara urat a dan b)
4. Longitudinal balance : = 50 dB
5. Redaman kabel: = 51 dB (pada frekuensi 400kHz)
6. Tahanan loop = 900 Ω
7. S/N = 24dB
8. Impedansi untuk semua sistem ADSL : 80 - 170 Ω

IDSL (ISDN Digital Subscriber Line)

IDSL adalah salah satu type teknologi xDSL yang berbasis pada teknologi ISDN BRA (Basic Rate Access). IDSL menawarkan layanan dengan kecepatan kirim dan terima yang sama sebesar 144 Kbps. IDSL hanya menawarkan layanan komunikasi data tidak untuk komunikasi suara. Jika saluran tidak mampu untuk aplikasi ADSL 4 Mbps dan G.SHDSL maka akan dilihat hasil ukur dari pengukuran ISDN BRA.

Aplikasi Wideband CDMA Pada Jaringan GSM


Pada aplikasi penerapan sistem akses WideBand CDMA (W-CDMA) pada Abis interface jaringan eksis GSM (antara BSC dengan BTS). Penambahan sistem W-CDMA pada jaringan GSM akan menambah perangkat transceiver WCDMA pada struktur Abis interface jaringan GSM yang dapat dimanfaatkan untuk layanan data kecepatan tinggi.

Asumsi–asumsi yang digunakan :

  • Dual mode terjadi pada BSS (Base Stasion Sub Sistem) dan pada MS tidak terjadi dual mode
  • MSC telah mampu melayani 2 sistem (TDMA/W-CDMA)

BSS terdiri dari BSC yang mengontrol satu atau lebih BTS yang berisi beberapa TRX (Transmitter Receiver). Abis interface mempunyai kemampuan mendukung 3 konfigurasi BTS internal yang berbeda yaitu :

  1. Satu TRX.
  2. Beberapa TRX yang semuanya dilayani oleh satu kanal fisik secara bersama.
  3. Beberapa TRX yang masing–masing mempunyai kanal fisik.

Sedangkan BCF (Base Control Function) berfungsi mengatur fungsi common control antara transmitter dan receiver serta kanal fisik pada BTS. Penerapan dual mode WCDMA pada Abis interface dilakukan dengan menambah perangkat TRX WCDMA pada BSS yang proses transmisinya diatur oleh BSC.

Struktur kanal dual mode GSM/WCDMA secara garis besar terdiri atas kanal kontrol, kanal data TDMA, kanal data WCDMA.

Kanal kontrol terdiri atas kanal kontrol sistem TDMA dan kanal kontrol sistem W-CDMA. Penerapan teknik dual mode W-CDMA pada jaringan GSM dilakukan dengan menambahkan addresing bit pada W-CDMA sebagai tanda frame W-CDMA, sehingga pada penerima MS atau BTS dapat mengidentifikasi frame–frame W-CDMA.

Adanya field address akan diidentifikasi sebagai frame W-CDMA atau frame TDMA oleh BSC pada kanal uplink untuk pengolahan data serta mengirim ke MSC untuk keperluan routing, roaming dan lain-lain. Pada sistem TDMA (GSM) adanya field address akan mengubah algoritma pemrosesan data pada radio link.

Dengan adanya penambahan addressing ini maka terjadi perubahan proses channel coding pada sistem GSM. Penambahan bit addressing adalah 3 bit sehingga output dari channel coding mempunyai bit rate (456+3)bit/20ms = 22,95 kbps.

Pada sistem W-CDMA terdapat field address sehingga akan mengubah algoritma channel coding dengan menambahkan field address setelah interleaving.

Sistem Wideband CDMA


Sistem Wideband CDMA (W-CDMA) adalah teknologi multiple akses dengan menggunakan modulasi DS – SS yang dapat menyediakan fasilitas pengaksesan user ke jaringan PSTN (Public Switched Telephone Network) dan dapat mengirimkan servis–servis transport voice, data, facsmile dan servis multimedia.

Teknologi ini berbeda dengan teknik akses radio konvensional yang menggunakan teknik pembagian bandwidth frekuensi yang tersedia ke kanal narrow atau ke dalam time slot. Teknologi W-CDMA dalam mengakses data dilakukan secara terus menerus selebar bandwidth tertentu (5 - 15 MHz).

Untuk membedakan masing–masing servis seperti telepon, facsmile, data atau multimedia maka digunakan kode–kode tertentu yang saling berkorelasi untuk masing–masing servis dan dipenerima akan digunakan kode–kode yang sama yang saling berkorelasi. Karena sistem W-CDMA ini merupakan pentransmisian pita lebar maka memiliki beberapa keuntungan yaitu :

  • Tahan terhadap interferensi.
  • Memiliki kondisi multipath propagasi.
  • Mempunyai efisiensi tinggi dan kapasitas tinggi bila diterapkan dalam konfigurasi multisel.
  • Mempunyai kemampuan untuk melayani servis dengan laju data tinggi, servis ISDN, multimedia dan bandwidth on demand.
  • Mampu melayani servis dengan laju data yang tinggi sampai 384 Kbps untuk area luas dan 2 Mbps untuk area indoor.
  • W-CDMA dapat melayani servis–servis yang berbeda pada frekuensi carrier yang sama sehingga dapat dimanfaatkan untuk komunikasi multimedia.
  • Optimal bila digunakan pada transfer paket data.
  • Tidak memerlukan sinkronisasi antar BTS dan memiliki biaya infrastruktur yang rendah.
  • Mampu mendukung antena array adaptive, deteksi multiuser dan mempunyai hirarki struktur sel.
  • 100 voice panggilan per RF carrier dengan 8 Kbps codec.
  • 50 paket data user per RF carrier pada 384 Kbps.
  • Mempunyai frekuensi sesuai wideband RF carrier serta kontrol daya lebih akurat.
  • Demodulasi koheren pada kanal uplink dan downlink.

Sistem W-CDMA dapat mereduksi fading karena sinyal W-CDMA ditebar dalam bandwidth yang lebar (5 - 15 MHz). Pada range frekuensi 1800 – 2000 MHz akan menghasilkan fluktuasi sinyal fading selebar 1 – 2 MHz. Bandwidth fading ini disebut sebagai coherence bandwidth. Sehingga dalam sistem CDMA harus ada cadangan fading yang harus dilebihi. Dalam sinyal W-CDMA ini terdapat sebagian sinyal yang terdegradasi akibat mutipath fading sehingga diperlukan teknik pemrosesan sinyal untuk mengantisipasi degradasi sinyal. Aplikasi dari komunikasi spread spectrum adalah pada komunikasi militer dimana teknik ini tahan terhadap jamming dan tipis kemungkinan untuk dimasuki noise. Selain itu teknologi W-CDMA saat ini sudah diaplikasikan secara komersial pada sistem tertentu karena kelebihannya yang menahan frekuensi dari sistem lain dan dapat mereduksi interferensi dari sistem lain yang menggunakan frekuensi yang sama.

Sistem W-CDMA mampu mengirimkan servis – servis dengan laju data yang tinggi seperti high speed data atau fax, multimedia dan bandwidth on demand. Adapun kapasitas maksimum dari base stasion W-CDMA adalah:

Cmax =jumlah maksimum panggilan
RC = chip rate
Rb = bit rate service
Eb/No = SNR total per bit
b = faktor interferensi inter sel (antar sel)

Untuk membandingkan efisiensi sistem dalam menggunakan spektrum frekuensi untuk melayani servis–servis maka perlu diperhitungkan juga efisiensi trunking. Efisiensi trunking adalah perbandingan antara jumlah rata–rata panggilan terhadap jumlah maksimum panggilan (Jumlah panggilan yang memasuki sistem). Efisiensi trunking digunakan untuk mengukur keefisiensian dari sistem dan dapat mengetahui kapasitas relatif antara sistem wideband dan narrowband.

Sistem W-CDMA merupakan sistem yang fleksibel terhadap operator jaringan. Karena pengaruh noise pada sistem WCDMA akan mempengaruhi kapasitas, daya radiasi dan kualitas sinyal. Bila diasumsikan terdapat model path loss pada daya transmisi, maka kapasitas dan range dari sistem WCDMA diberikan dari hubungan berikut dimana:

C/Cmax= perbandingan kapasitas terhadap kapasitas maksimum (kapasitas range 0)
R/Rmax = perbandingan terhadap range maksimum (dalam satu user)
g =konstanta propagasi eksponensial (= 3,5 untuk model hatta)

Selain itu operator sistem dapat mengatur kapasitas dan servis sesuai dengan source codingnya. Sebagai contoh untuk mengimplementasikan servis voice dengan menggunakan voice coding yang dioperasikan pada setengah dari laju pengkodean 32 Kbits/s ADPCM. Dalam sistem W-CDMA mempunyai kefleksibelan terhadap kapasitas dan servis–servis yang dibawa.
Kapasitas yang dapat dibawa untuk standar suara adalah :

64 Kbps ISDN, 64 Kbps untuk laju data yang tinggi atau 32 Kbps dengan laju pengkodean yang rendah dan VAD (Voice Activity Detection) dapat digunakan untuk menambah kapasitas.

Dalam sistem W-CDMA menggunakan frekuensi reuse (N=1) sehingga akan mengurangi kerumitan dalam perencanaan frekuensi dan penentuan cell site serta biaya yang lebih murah. Karena sifat kefleksibelannya maka W-CDMA dapat diimplementasikan pada daerah urban, suburban dan rural tergantung pada kepadatan user.

Sistem Wideband CDMA


Sistem Wideband CDMA (W-CDMA) adalah teknologi multiple akses dengan menggunakan modulasi DS – SS yang dapat menyediakan fasilitas pengaksesan user ke jaringan PSTN (Public Switched Telephone Network) dan dapat mengirimkan servis–servis transport voice, data, facsmile dan servis multimedia.

Teknologi ini berbeda dengan teknik akses radio konvensional yang menggunakan teknik pembagian bandwidth frekuensi yang tersedia ke kanal narrow atau ke dalam time slot. Teknologi W-CDMA dalam mengakses data dilakukan secara terus menerus selebar bandwidth tertentu (5 - 15 MHz).

Untuk membedakan masing–masing servis seperti telepon, facsmile, data atau multimedia maka digunakan kode–kode tertentu yang saling berkorelasi untuk masing–masing servis dan dipenerima akan digunakan kode–kode yang sama yang saling berkorelasi. Karena sistem W-CDMA ini merupakan pentransmisian pita lebar maka memiliki beberapa keuntungan yaitu :

  • Tahan terhadap interferensi.
  • Memiliki kondisi multipath propagasi.
  • Mempunyai efisiensi tinggi dan kapasitas tinggi bila diterapkan dalam konfigurasi multisel.
  • Mempunyai kemampuan untuk melayani servis dengan laju data tinggi, servis ISDN, multimedia dan bandwidth on demand.
  • Mampu melayani servis dengan laju data yang tinggi sampai 384 Kbps untuk area luas dan 2 Mbps untuk area indoor.
  • W-CDMA dapat melayani servis–servis yang berbeda pada frekuensi carrier yang sama sehingga dapat dimanfaatkan untuk komunikasi multimedia.
  • Optimal bila digunakan pada transfer paket data.
  • Tidak memerlukan sinkronisasi antar BTS dan memiliki biaya infrastruktur yang rendah.
  • Mampu mendukung antena array adaptive, deteksi multiuser dan mempunyai hirarki struktur sel.
  • 100 voice panggilan per RF carrier dengan 8 Kbps codec.
  • 50 paket data user per RF carrier pada 384 Kbps.
  • Mempunyai frekuensi sesuai wideband RF carrier serta kontrol daya lebih akurat.
  • Demodulasi koheren pada kanal uplink dan downlink.

Sistem W-CDMA dapat mereduksi fading karena sinyal W-CDMA ditebar dalam bandwidth yang lebar (5 - 15 MHz). Pada range frekuensi 1800 – 2000 MHz akan menghasilkan fluktuasi sinyal fading selebar 1 – 2 MHz. Bandwidth fading ini disebut sebagai coherence bandwidth. Sehingga dalam sistem CDMA harus ada cadangan fading yang harus dilebihi. Dalam sinyal W-CDMA ini terdapat sebagian sinyal yang terdegradasi akibat mutipath fading sehingga diperlukan teknik pemrosesan sinyal untuk mengantisipasi degradasi sinyal. Aplikasi dari komunikasi spread spectrum adalah pada komunikasi militer dimana teknik ini tahan terhadap jamming dan tipis kemungkinan untuk dimasuki noise. Selain itu teknologi W-CDMA saat ini sudah diaplikasikan secara komersial pada sistem tertentu karena kelebihannya yang menahan frekuensi dari sistem lain dan dapat mereduksi interferensi dari sistem lain yang menggunakan frekuensi yang sama.

Sistem W-CDMA mampu mengirimkan servis – servis dengan laju data yang tinggi seperti high speed data atau fax, multimedia dan bandwidth on demand. Adapun kapasitas maksimum dari base stasion W-CDMA adalah:

Cmax =jumlah maksimum panggilan
RC = chip rate
Rb = bit rate service
Eb/No = SNR total per bit
b = faktor interferensi inter sel (antar sel)

Untuk membandingkan efisiensi sistem dalam menggunakan spektrum frekuensi untuk melayani servis–servis maka perlu diperhitungkan juga efisiensi trunking. Efisiensi trunking adalah perbandingan antara jumlah rata–rata panggilan terhadap jumlah maksimum panggilan (Jumlah panggilan yang memasuki sistem). Efisiensi trunking digunakan untuk mengukur keefisiensian dari sistem dan dapat mengetahui kapasitas relatif antara sistem wideband dan narrowband.

Sistem W-CDMA merupakan sistem yang fleksibel terhadap operator jaringan. Karena pengaruh noise pada sistem WCDMA akan mempengaruhi kapasitas, daya radiasi dan kualitas sinyal. Bila diasumsikan terdapat model path loss pada daya transmisi, maka kapasitas dan range dari sistem WCDMA diberikan dari hubungan berikut dimana:

C/Cmax= perbandingan kapasitas terhadap kapasitas maksimum (kapasitas range 0)
R/Rmax = perbandingan terhadap range maksimum (dalam satu user)
g =konstanta propagasi eksponensial (= 3,5 untuk model hatta)

Selain itu operator sistem dapat mengatur kapasitas dan servis sesuai dengan source codingnya. Sebagai contoh untuk mengimplementasikan servis voice dengan menggunakan voice coding yang dioperasikan pada setengah dari laju pengkodean 32 Kbits/s ADPCM. Dalam sistem W-CDMA mempunyai kefleksibelan terhadap kapasitas dan servis–servis yang dibawa.
Kapasitas yang dapat dibawa untuk standar suara adalah :

64 Kbps ISDN, 64 Kbps untuk laju data yang tinggi atau 32 Kbps dengan laju pengkodean yang rendah dan VAD (Voice Activity Detection) dapat digunakan untuk menambah kapasitas.

Dalam sistem W-CDMA menggunakan frekuensi reuse (N=1) sehingga akan mengurangi kerumitan dalam perencanaan frekuensi dan penentuan cell site serta biaya yang lebih murah. Karena sifat kefleksibelannya maka W-CDMA dapat diimplementasikan pada daerah urban, suburban dan rural tergantung pada kepadatan user.

Pemancar AM DAN Penerima AM Superheterodyne


Penyaluran informasi dari satu tempat ketempat yang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemancar bertingkat dengan modulasi AM merupakan salah satu cara untuk menyalurkan informasi dalam teknik perhubungan radio.

Pemancar AM

Pemancar AM merupakan suatu pemancar yang memanfaatkan teknik modulasi analog yaitu Amplitude Modulation (AM), untuk mentransmisikan sinyal informasi. Blok diagram yang umum dari pemancar AM adalah sebagai berikut :

http://3.bp.blogspot.com/_qpVYZblSgcE/TQpt1NjVVQI/AAAAAAAAB-I/j4IwhjLRiAo/s1600/diagram+pemancar+am.bmp

Blok Diagam Pemancar AM


Sumber pembawa adalah sebuah osilator yang dikemudikan dengan kristal pada frekuensi pembawa atau kelipatan dibawahnya. Besarnya frekuensi keluaran dapat diatur dengan mengubah nilai L dan C. Frekuensi yang dipancarkan diusahakan konstan agar gelombang keluaran yang dihasilkan lebih baik. Kemudian ini diikuti oleh sebuah penguat buffer yang ditala. Dengan adanya buffer diusahakan agar frekuensi yang dibangkitkan oleh osilator konstan. Sinyal informasi dimasukkan pada rangkaian ini untuk dicampur dengan sinyal pembawa. Pada transmitter terdapat rangkaian modulator yang pada umumnya adalah sebuah penguat kelas C. Penggunaan penguat kelas C ini akan mengakibatkan timbulnya cacat yang tidak diinginkan pada selubung modulasi yang mengandung sinyal informasi. Keluaran dari penguat RF ditransmisikan lewat antena.

Penerima AM Superheterodyne

Secara umum penerima AM berfungsi untuk menerima sinyal termodulasi AM dan melakukan proses demodulasi terhadap sinyal tersebut. Sinyal tersebut pertama kali diterima oleh antena, dan kemudian dilakukan pemilihan sinyal yang diinginkan dari semua sinyal yang dapat diterima oleh antena. Sinyal yang dipisahkan tersebut kemudian diperkuat sampai pada suatu tingkat yang dapat digunakan. Proses selanjutnya adalah demodulasi sinyal radio yaitu proses pemisahan sinyal informasi dari sinyal carrier / sinyal pembawa yang dilakukan di demodulator AM atau detektor AM.

Penerima-penerima AM model lama yang dipakai untuk penerimaan sinyal yang dimodulasi amplitudo biasanya menggunakan prinsip frekuensi radio yang ditala atau tuned radio frequency (TRF). Pada penerima ini, sinyal termodulasi yang diterima akan melalui proses penguatan pada sebuah rantai penguat yang masing-masing ditala pada frekuensi yang sama dan kemudian diikuti rangkaian detektor. Penerima semacam ini mempunyai selektivitas sinyal berbatasan yang buruk, terutama bila diharuskan untuk menala pada cakupan - cakupan frekuensi yang lebar.

Penerima superheterodyne dikembangkan untuk memperbaiki selektivitas saluran berbatasan (adjacent channel selectivity) ini dengan menempatkan bagian terbesar dari selektivitas frekuensi pada tingkat-tingkat frekuensi antara (intermediate frekuensi / IF) setelah konversi frekuensi yang pertama. Adalah jauh lebih mudah untuk mendapatkan selektivitas ini pada intermediate frekuensi, karena rangkaian-rangkaian tinggal tetap-ditala pada IF, dan tidak berubah-ubah meskipun dipilih stasiun-stasiun yang berbeda.
Blok diagram dari penerima AM Superheterodyne adalah sebagai berikut :

http://2.bp.blogspot.com/_qpVYZblSgcE/TQptvDOMjSI/AAAAAAAAB-E/_XUVC5i_liQ/s1600/Blok+Diagam+Penerima+AM+Superheterodyne.bmp

Blok Diagam Penerima AM Superheterodyne


Prinsip superheterodyne terjadi apabila jika dua buah sinyal sinusoida dengan frekuensi berbeda dicampur, sehingga keduanya mengalikan atau saling menambah dan sinyal keluaran akan mengandung komponen-komponen sinyal pada frekuensi - frekuensi yang merupakan jumlah, selisih, dan masing-masing dari kedua frekuensi asal tersebut. Juga akan terdapat campuran-campuran harmonisa dari sinyal-sinyal ini, tetapi jika kedua frekuensi dasar dipilih dengan hati-hati, ini tidak akan saling mengganggu (interference).

Istilah superheterodyne adalah singkatan dari supersonic heterodyne, yang dapat diartikan sebagai pembangkitan frekuensi-frekuensi campuran di atas batas pendengaran.

Tingkat pertama dari sebuah penguat RF ditala, yang kegunaan utamanya adalah untuk memperbaiki perbandingan S/N. Tingkat ini juga memberikan sedikit perbaikan dalam selektivitas RF dan penurunan pancaran kembali dari osilator (oscillator re-radiation). Keluaran dari tingkat RF tala diumpankan ke masukan sinyal dari sebuah rangkaian osilator-penyampur dimana terjadi pembangkitan frekuensi-frekuensi campuran (heterodyning). Rangkaian osilator biasanya ditala dengan penalaan kapasitansi, dan ketiga kapasitor tala (tuning capacitor) disatukan (ganged) secara mekanis pada sebuah sumbu dan tombol pengaturan bersama. Osilator dan penyampur dapat merupakan rangkaian-rangkaian terpisah, atau dapat juga dikombinasikan seperti dalam rangkaian penyampur autodyne.

Keluaran penyampur (frekuensi selisih untuk konversi ke-bawah dalam penerima) diumpankan ke dua buah penguat tala IF, yang ditala-tetap dan mempunyai cukup selektivitas untuk menolak sinyal-sinyal dari saluran yang berbatasan. Keluaran dari penguat IF dimasukkan ke detektor, dimana sinyal audio dihasilkan kembali, atau didemodulasi (demodulated). Detektor juga menyediakan sinyal-sinyal untuk pengaturan perolehan otomatis (Automatic Gain Control =AGC). Sinyal AGC dikenakan pada satu atau beberapa dari penguat IF dan RF. Keluaran audio diteruskan melalui sebuah pengatur volume ke penguat audio, yang biasanya terdiri dari satu penguat tegangan tingkat-rendah yang diikuti oleh sebuah penguat daya, dan akhirnya dihubungkan ke sebuah pengeras suara.